Page 3 - GHH KATALOG (PRINT)
P. 3

Seni Grafis dan Kolektivisme                                                               Definisi kolektif seni menurut hemat penulis ialah individu atau seniman yang berkumpul   wahana kontemplasi, paling tidak bagi mereka untuk menemukan esensi mengenai apa      Kegiatan kolektif melalui praktik kolaborasi dalam pamer
                                                                                                    dalam satu waktu untuk tujuan tertentu, berkarya secara bersama dengan menekankan         itu seni grafis. Praktik seni yang cukup dikenal (di Indonesia) dengan berbagai macam   keinginannya untuk menarik diri dari pasar seni dan ek
         Bhakti Tanza Lutfi
                                                                                                    aspek kolaborasi tanpa ada hierarki di dalamnya. Kolektivisme dalam seni dipahami         polemiknya, mulai dari syarat konevensi, krisis eksistensi, label “anak tiri”, hingga   produksi objek hanya sebagai produk yang diperjual-bel

                                                                                                    sebagai prinsip bahwa identitas seniman terkait dengan identitas kelompok kolektifnya, di   minimnya antusiasme dalam medan pasar seni. Tanpa menampik keseluruhan persoalan
                                                                                                                                                                                                                                                                                    Selanjutnya, melalui pembacaan terhadap pameran ini, tel
                                                                                                    mana seniman dapat saling menjaga, melindungi dan mengembangkan satu sama                 itu, upaya ini tentunya didasarkan pada keyakinan bahwa seni grafis (terlebih bagi
         … Praktik seni grafis erat kaitannya dengan gagasan-gagasan kolektivisme,                                                                                                                                                                                                  dapat menemukan titik terangnya sendiri, yaitu sebagai m
                                                                                                    lainnya. Lind (2009) menjelaskan kerja kolaborasi dalam dinamika seni hari ini ialah      mereka), masih memiliki banyak hal yang perlu terjelaskan, terutama bersinggungan
         ibarat sepeda motor yang membutuhkan roda untuk mengendarainya. Beberapa                                                                                                                                                                                                   memperluas, menjaga nilai-nilai dalam sebuah pertemanan.
                                                                                                    kesenian yang merujuk secara abstrak ke semua proses di mana individu-individu bekerja    dengan nilai-nilai kehidupan, yang diperlukan bukan saja secara individual tetapi juga
         kalangan seni maupun agen kebudayaan mungkin akan membantahnya dan                                                                                                                                                                                                         penyelenggaraannya yang didasarkan pada prinsip kolektiv
                                                                                                    bersama-menerapkannya pada aspek pekerjaan individu maupun kolektif yang lebih            sosial budaya.
         menganggapnya hanya sebagai mitos, namun hal itu telak adanya, paling tidak                                                                                                                                                                                                kerja kolaborasi. Kolaborasi di sini dipahami tidak hany
                                                                                                    besar.[3]
         telah kami yakini selama satu dasawarsa ini.                                                                                                                                         Melihat motif pameran ini, terdapat kecenderungan yang dapat dikenali dalam wacana    karya artistik  semata, namun  mencakup  banyak  hal, te
                                                                 Grafis Huru Hara
                                                                                                    Melihat sejarahnya, Indonesia sebenarnya memiliki segudang artefak dan narasi penting     seni grafis yang lebih luas, tak hanya sebatas persoalan teknis ataupun sikap artistik   pertemanan, menjaga intensitas pertemuan dan memperer
                                                                                                    terkait hubungan antara praktik seni grafis dan kolektivisme. Merujuk pada penelitian     semata. Mereka mencoba menyisipkan konsep-konsep budaya keseharian untuk disusun
         Seni grafis umumnya dipahami sebagai salah satu cabang seni rupa dua dimensi, yang                                                                                                                                                                                         Mereka secara sadar melihat potensi dan ketersediaan rag
                                                                                                    yang dilakukan Antariksa[4], diketahui bahwa selama masa penjajahan Jepang                kembali dalam percakapan dalam mengembangkan wacana seni grafis yang ‘baru’.
         dalam proses pembuatannya menggunakan teknik cetak, dan biasanya diaplikasikan                                                                                                                                                                                             oleh masing-masing kelompok atau komunitas seni, terutam
                                                                                                    (1942-1945), seniman di Indonesia banyak melakukan praktik seni dan grafis, seperti       Seperti halnya konsep gotong-royong sebagai salah satu contoh konstruksi budaya di
         pada media kertas. Tulisan ini tidak serta merta menjabarkan hulu hilirnya pengertian                                                                                                                                                                                      semangat serupa untuk secara bersama mengembangkannya me
                                                                                                    membuat poster-poster yang dirancang untuk Perang Asia Timur Raya. Di samping itu,        Indonesia yang digunakan dalam wacana seni kontemporer di sekitar estetika dan praktik
         tentang seni grafis, namun lebih menekankan pada diskursus mengenai bagaimana seni                                                                                                                                                                                         seni grafis yang lebih besar. Adanya pengharapa terhadap
                                                                                                    yang cukup terkenal dalam lingkup masyarakat salah satunya ialah para seniman masa        kolaboratif dewasa ini.
         grafis berkembang dalam dimensi kehidupan hari ini, terutama bersinggungan dalam                                                                                                                                                                                           dikembangkan memiliki fungsi sebagai ruang bersama yang
                                                                                                    pra kemerdekaan saling bekerja sama membuat poster untuk memproklamasikan
         lingkup kolektivisme.                                                                                                                                                                Material karya berupa Postcard digunakan sebagai objek yang memfasilitasi, menghasut,   intensitas pertemuan untuk sesederhananya melakukan pe
                                                                                                    kemerdekaan Indonesia, dan kemudian dijadikan sebagai alat diplomasi terhadap
                                                                                                                                                                                              menginspirasi, dan membangun sebuah dialog, paling tidak bagi mereka untuk saling     tentang aspek keberlanjutan, di samping minimnya ruang d
         Melihat kaitan antara seni grafis dan kolektivisme, akan diawali dengan pemahaman          beberapa Negara dunia. ( Lihat: Boeng Ajo Boeng! )
                                                                                                                                                                                              bertukar sapa, berkabar dan mengetahui kondisi antar kolektifnya. Di samping          perkembangan praktik seni grafis itu sendiri.
         mengenai kolektivisme. Kolektivisme merupakan gagasan-gagasan yang dihasilkan
                                                                                                    Perkembangannya, dunia seni grafis hari ini mampu melahirkan pendekatan sosiologi seni    karakteristik karya seni grafis yang bersifat massive dan repetitive, yang dimanfaatkan
         dari hubungan sosial (Negri, 2011)[1]. Di samping itu, kolektivisme sebenarnya bukanlah                                                                                                                                                                                    Pada akhirnya, praktik kolektif dalam lingkup seni grafi
                                                                                                    yang  bukan  hanya merupakan  penilaian terhadap estetika saja, namun  menghasilkan       sebagai  media  dalam  menjaring  lawan  bicara  sebanyak-banyaknya.  Demikianlah  saat
         gagasan  dan  praktik  baru dalam  sejarah  seni  rupa,  Stimson  &  Shollete  (ed., 2007)                                                                                                                                                                                 berbagi  pengetahuan dan  transformasi bagi  berbagai  m
                                                                                                    pemahaman lebih kompleks mengenai jaringan kerja sama dalam menciptakan sebuah            berdialog merupakan kegiatan inti dalam praktik seni yang digaungkan dalam pameran
         menjelaskan munculnya kolektivisme yang khas khususnya setelah modernisme.                                                                                                                                                                                                 berlangsung secara intensif dan saling berkesinambungan.
                                                                                                    karya atau aktivitas seni untuk didistribusikan sebagai bagian dari pengetahuan. Titik    ini, memfokuskan pada asosiasi antara peran dari masing-masing kolektif di dalamnya.
         Penelitiannya dalam menelurusi sejarah praktik kolektif terutama setelah tahun 1945                                                                                                                                                                                        menjalin kolaborasi artistik secara organik melalui pert
                                                                                                    tolaknya dengan melihat praktik artistik seni grafis secara lebih luas, meyakini bahwa satu
         yang menjelaskan konteks sosial politik global di penghujung abad ke-20 mampu                                                                                                        Strategi  pola  kerja  kolaboratif  sebagai  bentuk  eksplorasi  metode  prakitk  seni  yang   baik di tingkat individu maupun secara komunal
                                                                                                    ekspresi atau karya seni grafis itu tidak berhenti sampai pada aspek produksi artistik,
         mendorong  kolektivisme baru.  Merujuk pada  pengertian  Negri tentang kolektivisme                                                                                                  dilakukan dalam pameran ini dibangun dan dikembangkan sebagai infrastruktur baru nan   pendekatan yang mereka lakukan. Semua bentuk kerjasama
                                                                                                    namun melihat kemungkinan-kemungkinan lain sebagai potensi yang dapat
         sebagai gagasan-gagasan yang dihasilkan dari hubungan sosial, Stimson dan Shollete                                                                                                   ideal bagi mereka. Menempati posisi tersendiri, bukan sebagai bentuk oposisi, bukan pula   niat dan dorongan dasar untuk saling berbagi, berko
                                                                                                    dikembangkan lebih luas.
         membedakan kolektivisme ini dengan semangat avant-garde modernisme maupun
                                                                                                                                                                                              sebuah antithesis, perlawanan, maupun reaksi langsung atas Medan seni rupa arus       berlandaskan persahabatan. Perlunya mengangkat pengamata
         citra-perlawanan (counter-image) postmodernisme. Menurut mereka, kolektivisme baru
                                                                                                    Bersinggungan dengan itu, keberadaan karya seni grafis tentunya merupakan bagian dari     utama yang masih didominasi karya seni lukis. Hal ini lebih tepatnya dilihat sebagai   dan  dengan  komunikasi, kolaborasi sebagai metode  tel
         ini dicirikan oleh upaya seniman-seniman untuk lebih berperan secara sosial
                                                                                                    tindakan kolektif yang dilakukan oleh seniman dengan individu atau lembaga seni lainnya.   tanggapan terhadap kondisi perubahan masyarakat, demi perkembangan gagasan           paradigma baru produksi immaterial selama beberapa dekad

         dibandingkan hanya menggambarkan kehidupan sosial atau bertarung dalam wilayah
                                                                                                    Pernyataan ini didukung yang jika merujuk pada Becker dalam Art World (1982), ia          praktik seni grafis yang relevan dan keterlibatan langsung dengan kenyataan sosial yang
                                                                                                                                                                                                                                                                                    Kolektivisme dalam pameran seni grafis ini sebenarnya me
         representasi, kolektivisme ini melibatkan diri dengan kehidupan sosial sebagai medium
                                                                                                    menegaskan bahwa kesenian secara luas dapat dipahami sebagai aktivitas yang               terjadi di masyarakat. Dapat dikatakan bahwa bagi mereka, pertemanan lebih utama
                                                                                                                                                                                                                                                                                    kolektif yang menekankan kerja-kerja seni yang berlandas
         ekspresi.[2]
                                                                                                    dilakukan sejumlah atau sekelompok manusia di dalamnya.[5]                                dibandingkan dengan sebuah “pameran”.
                                                dengan praktik seni yang bersifat dialogis. Dialog di si
                                                                                                    Melalui pameran ini, terlihat bahwa Grafis Huru Hara bersama Pangrok Sulap (Malaysia)
                                                                                                                                                                                                                                                                                    pada hubungan kata-kata melalui diskusi ataupun komunika

                                                                                                    dan A3BC (Jepang) ingin mencoba untuk mengkaji, mengungkap kembali, membentuk                                                                                                   berlaku secara lebih luas dalam setiap bentuk jalinan hu
   1   2   3   4   5   6   7   8