Page 7 - GHH KATALOG (PRINT)
P. 7

Definisi kolektif seni menurut hemat penulis ialah individu atau seniman yang berkumpul   wahana kontemplasi, paling tidak bagi mereka untuk menemukan esensi mengenai apa   Kegiatan kolektif melalui praktik kolaborasi dalam pameran ini, di sisi lain, terkait dengan   subjek di dalamnya. Kolektivisme dengan menekankan metode kolab
 dalam satu waktu untuk tujuan tertentu, berkarya secara bersama dengan menekankan   itu seni grafis. Praktik seni yang cukup dikenal (di Indonesia) dengan berbagai macam   keinginannya untuk menarik diri dari pasar seni dan eksploitasinya, untuk berpaling dari   bukan upaya dalam mencari suatu kebenaran hakiki tentang bagaimana s
         grafis harus berlangsung, namun sebagai upaya tentang bagaimana mereka dapat
 aspek kolaborasi tanpa ada hierarki di dalamnya. Kolektivisme dalam seni dipahami   polemiknya, mulai dari syarat konevensi, krisis eksistensi, label “anak tiri”, hingga   produksi objek hanya sebagai produk yang diperjual-belikan.
         memahami sesama untuk secara bersama mencari solusi dalam menyikapi suatu
 sebagai prinsip bahwa identitas seniman terkait dengan identitas kelompok kolektifnya, di   minimnya antusiasme dalam medan pasar seni. Tanpa menampik keseluruhan persoalan
 Selanjutnya, melalui pembacaan terhadap pameran ini, telah disadari bahwa seni grafis   persoalan tertentu.
 mana seniman dapat saling menjaga, melindungi dan mengembangkan satu sama   itu, upaya ini tentunya didasarkan pada keyakinan bahwa seni grafis (terlebih bagi
 … Praktik seni grafis erat kaitannya dengan gagasan-gagasan kolektivisme,   dapat menemukan titik terangnya sendiri, yaitu sebagai media dalam merangkul,
 lainnya. Lind (2009) menjelaskan kerja kolaborasi dalam dinamika seni hari ini ialah   mereka), masih memiliki banyak hal yang perlu terjelaskan, terutama bersinggungan   Sebagai penutup, meminjam perkataan menarik yang diungkapkan oleh Antonio Negri:
 ibarat sepeda motor yang membutuhkan roda untuk mengendarainya. Beberapa   memperluas, menjaga nilai-nilai dalam sebuah pertemanan. Terlihat dalam proses
 kesenian yang merujuk secara abstrak ke semua proses di mana individu-individu bekerja   dengan nilai-nilai kehidupan, yang diperlukan bukan saja secara individual tetapi juga   “Kita berbagi tubuh dengan dua mata, sepuluh jari, sepuluh jari kaki; kita berbagi
 kalangan seni maupun agen kebudayaan mungkin akan membantahnya dan   penyelenggaraannya yang didasarkan pada prinsip kolektivisme dengan menekankan
 bersama-menerapkannya pada aspek pekerjaan individu maupun kolektif yang lebih   sosial budaya.  kehidupan di bumi ini; kita berbagi rezim produksi dan eksploitasi kapitalis; kita
 menganggapnya hanya sebagai mitos, namun hal itu telak adanya, paling tidak   kerja kolaborasi. Kolaborasi di sini dipahami tidak hanya sampai pada proses penciptaan
 besar.[3]  berbagi mimpi bersama tentang masa depan yang lebih baik.”
 telah kami yakini selama satu dasawarsa ini.  Melihat motif pameran ini, terdapat kecenderungan yang dapat dikenali dalam wacana   karya artistik  semata, namun  mencakup  banyak  hal, termasuk  memperluas jaringan
 Grafis Huru Hara
 Melihat sejarahnya, Indonesia sebenarnya memiliki segudang artefak dan narasi penting   seni grafis yang lebih luas, tak hanya sebatas persoalan teknis ataupun sikap artistik   pertemanan, menjaga intensitas pertemuan dan mempererat tali persaudaraan.
 terkait hubungan antara praktik seni grafis dan kolektivisme. Merujuk pada penelitian   semata. Mereka mencoba menyisipkan konsep-konsep budaya keseharian untuk disusun
 Seni grafis umumnya dipahami sebagai salah satu cabang seni rupa dua dimensi, yang   Mereka secara sadar melihat potensi dan ketersediaan ragam sumber daya yang dimiliki
 yang dilakukan Antariksa[4], diketahui bahwa selama masa penjajahan Jepang   kembali dalam percakapan dalam mengembangkan wacana seni grafis yang ‘baru’.
 dalam proses pembuatannya menggunakan teknik cetak, dan biasanya diaplikasikan   oleh masing-masing kelompok atau komunitas seni, terutama di Asia yang memiliki
 (1942-1945), seniman di Indonesia banyak melakukan praktik seni dan grafis, seperti   Seperti halnya konsep gotong-royong sebagai salah satu contoh konstruksi budaya di
 pada media kertas. Tulisan ini tidak serta merta menjabarkan hulu hilirnya pengertian   semangat serupa untuk secara bersama mengembangkannya menjadi sebuah ekosistem
 membuat poster-poster yang dirancang untuk Perang Asia Timur Raya. Di samping itu,   Indonesia yang digunakan dalam wacana seni kontemporer di sekitar estetika dan praktik
 tentang seni grafis, namun lebih menekankan pada diskursus mengenai bagaimana seni   seni grafis yang lebih besar. Adanya pengharapa terhadap ekosistem ini dapat
 yang cukup terkenal dalam lingkup masyarakat salah satunya ialah para seniman masa   kolaboratif dewasa ini.
 grafis berkembang dalam dimensi kehidupan hari ini, terutama bersinggungan dalam   dikembangkan memiliki fungsi sebagai ruang bersama yang didasari atas kebutuhan akan
 pra kemerdekaan saling bekerja sama membuat poster untuk memproklamasikan
 lingkup kolektivisme.  Material karya berupa Postcard digunakan sebagai objek yang memfasilitasi, menghasut,   intensitas pertemuan untuk sesederhananya melakukan percakapan, memikirkan kembali
 kemerdekaan Indonesia, dan kemudian dijadikan sebagai alat diplomasi terhadap
 menginspirasi, dan membangun sebuah dialog, paling tidak bagi mereka untuk saling   tentang aspek keberlanjutan, di samping minimnya ruang dialog terkait wacana
 Melihat kaitan antara seni grafis dan kolektivisme, akan diawali dengan pemahaman   beberapa Negara dunia. ( Lihat: Boeng Ajo Boeng! )
 bertukar sapa, berkabar dan mengetahui kondisi antar kolektifnya. Di samping   perkembangan praktik seni grafis itu sendiri.
 mengenai kolektivisme. Kolektivisme merupakan gagasan-gagasan yang dihasilkan
 Perkembangannya, dunia seni grafis hari ini mampu melahirkan pendekatan sosiologi seni   karakteristik karya seni grafis yang bersifat massive dan repetitive, yang dimanfaatkan
 dari hubungan sosial (Negri, 2011)[1]. Di samping itu, kolektivisme sebenarnya bukanlah   Pada akhirnya, praktik kolektif dalam lingkup seni grafis ini telah menjadi platform untuk
 yang  bukan  hanya merupakan  penilaian terhadap estetika saja, namun  menghasilkan   sebagai  media  dalam  menjaring  lawan  bicara  sebanyak-banyaknya.  Demikianlah  saat
 gagasan  dan  praktik  baru dalam  sejarah  seni  rupa,  Stimson  &  Shollete  (ed., 2007)   berbagi  pengetahuan dan  transformasi bagi  berbagai  manusia dan praktik  yang
 pemahaman lebih kompleks mengenai jaringan kerja sama dalam menciptakan sebuah   berdialog merupakan kegiatan inti dalam praktik seni yang digaungkan dalam pameran
 menjelaskan munculnya kolektivisme yang khas khususnya setelah modernisme.   berlangsung secara intensif dan saling berkesinambungan. Para anggota kolektif telah
 karya atau aktivitas seni untuk didistribusikan sebagai bagian dari pengetahuan. Titik   ini, memfokuskan pada asosiasi antara peran dari masing-masing kolektif di dalamnya.
 Penelitiannya dalam menelurusi sejarah praktik kolektif terutama setelah tahun 1945   menjalin kolaborasi artistik secara organik melalui pertukaran ide. Hubungan telah tumbuh
 tolaknya dengan melihat praktik artistik seni grafis secara lebih luas, meyakini bahwa satu
 yang menjelaskan konteks sosial politik global di penghujung abad ke-20 mampu   Strategi  pola  kerja  kolaboratif  sebagai  bentuk  eksplorasi  metode  prakitk  seni  yang   baik di tingkat individu maupun secara komunal (organisasi) melalui beragam aktivitas dan
 ekspresi atau karya seni grafis itu tidak berhenti sampai pada aspek produksi artistik,
 mendorong  kolektivisme baru.  Merujuk pada  pengertian  Negri tentang kolektivisme   dilakukan dalam pameran ini dibangun dan dikembangkan sebagai infrastruktur baru nan   pendekatan yang mereka lakukan. Semua bentuk kerjasama ini bisa terjadi karena adanya
 namun melihat kemungkinan-kemungkinan lain sebagai potensi yang dapat
 sebagai gagasan-gagasan yang dihasilkan dari hubungan sosial, Stimson dan Shollete   ideal bagi mereka. Menempati posisi tersendiri, bukan sebagai bentuk oposisi, bukan pula   niat dan dorongan dasar untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan bertukar pikiran yang
 dikembangkan lebih luas.
 membedakan kolektivisme ini dengan semangat avant-garde modernisme maupun
 sebuah antithesis, perlawanan, maupun reaksi langsung atas Medan seni rupa arus   berlandaskan persahabatan. Perlunya mengangkat pengamatan bahwa kerja bersama
 citra-perlawanan (counter-image) postmodernisme. Menurut mereka, kolektivisme baru
 Bersinggungan dengan itu, keberadaan karya seni grafis tentunya merupakan bagian dari   utama yang masih didominasi karya seni lukis. Hal ini lebih tepatnya dilihat sebagai   dan  dengan  komunikasi, kolaborasi sebagai metode  telah  menjadi aspek sentral dari
 ini dicirikan oleh upaya seniman-seniman untuk lebih berperan secara sosial   [1] Negri, Antonio, (2011) Art and Multitude, trans, Ed Emery (2009; Cambridge: Polity Press, 2011), hal. xii.

 tindakan kolektif yang dilakukan oleh seniman dengan individu atau lembaga seni lainnya.   tanggapan terhadap kondisi perubahan masyarakat, demi perkembangan gagasan   paradigma baru produksi immaterial selama beberapa dekade terakhir.
         [2] Stimson & Shollete (ed., 2007). Collectivism after Modernism, The Art of Social Imagination After 1945.
 dibandingkan hanya menggambarkan kehidupan sosial atau bertarung dalam wilayah
 Pernyataan ini didukung yang jika merujuk pada Becker dalam Art World (1982), ia   praktik seni grafis yang relevan dan keterlibatan langsung dengan kenyataan sosial yang
 Kolektivisme dalam pameran seni grafis ini sebenarnya mengacu pada suatu tindakan   Minneapolis: Minnesota Press. hal. 13.

 representasi, kolektivisme ini melibatkan diri dengan kehidupan sosial sebagai medium
 menegaskan bahwa kesenian secara luas dapat dipahami sebagai aktivitas yang   terjadi di masyarakat. Dapat dikatakan bahwa bagi mereka, pertemanan lebih utama   [3] Lind, Maria, (2009) Complications: On Collaboration, Agency and Contemporary Art. In: Nina Möntmann szerk.
 kolektif yang menekankan kerja-kerja seni yang berlandaskan dialektika, atau kaitannya
 ekspresi.[2]  New Communities. The Power Plant and Public Books, Toronto

 dilakukan sejumlah atau sekelompok manusia di dalamnya.[5]  dibandingkan dengan sebuah “pameran”.
  dengan praktik seni yang bersifat dialogis. Dialog di sini diartikan tidak hanya mencakup
 Melalui pameran ini, terlihat bahwa Grafis Huru Hara bersama Pangrok Sulap (Malaysia)   [4] Gurafiku 1942-1945: Nippon, Asia Timur Raya, dan Praktik Desain di Indonesia, diselenggarakan oleh Desain
 pada hubungan kata-kata melalui diskusi ataupun komunikasi verbal saja, melainkan
         Grafis Indonesia dengan dukungan dari Dewan Kesenian Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta.
 dan A3BC (Jepang) ingin mencoba untuk mengkaji, mengungkap kembali, membentuk   berlaku secara lebih luas dalam setiap bentuk jalinan hubungan yang dibentuk antar   [5] Becker, Howard Saul. (1982). Art Worlds, University of California Press, California. hal. X-XV, 129-161.
   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12